Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

Tuesday, June 15, 2010

Pompeii


pompeiiAdalah kota modern pada masa kejayaan kekaisaran Romawi, dekat napoli di wilayah Italia. Pompeii hancur dan benar-benar terkubur karena sekian lama dan panjangnya dampak letusan dari gunung berapi Vesuvius yang terjadi pada 79 M. Runtuhnya gunung tersebut sehingga mengubur Pompeii dibawah 60 kaki dengan abu dan batu apung. Letusan yang berlangsung selama 19 jam dan mengeluarkan sekitar 1 kubik mil (4 kubik kilometer) abu dan batu sehingga juga mengakibatkan kerusakan yang berarti kota tetangganya, Herculaneum. Korban jiwa dari bencana ini diperhitungkan antara 10.000-25.000 jiwa.
Pada masa tersebut, masyarakat Romawi sudah sangat terbiasa dengan getaran-getaran kecil pada buminya. Pada tulisan sejarah yang ditemukan, menjelaskan bahwa "mereka tidak cukup kuatir dengan situasi ini karena cukup sering terjadi di daerahnya". Tujuh belas tahun sebelum letusan Venusius terjadi, Pompeii dan kota terdekat lainnya sudah merasakan gempa tektonik yang cukup kuat yang terjadi pada 5 Februari 92 yang dampaknya juga menyebabkan kerusakan yang cukup luas, khususnya di sekitar daerah teluk Naples.
Setelah bermula dengan gempa kecil pada 20 Agustus 79, mulai sore hari pada 24 Agustus yang secara kebetulan bertepatan dengan festival Vulcanalia - upacara rakyat terkait dengan Dewa Api Romawi, sebuah bencana yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi baru memulai,  dan berdampak menghancurkan wilayah Pompeii serta kota disekitarnya.
Catatan sejarah yang ditemukan dalam bentuk dua surat yang ditulis oleh saksi mata Plinius muda, yang menggambarkan secara rinci proses meletusnya gunung dan dampak yang diakibatkan, termasuk juga menceritakan kematian pamannya yang mencoba melakukan evakuasi korban dengan menggunakan kapalnya.


Tambora 1815, Mengguncang Peradaban Manusia

kebanyakan dari kita lebih mengenal Gunung Krakatau dengan sejarah letusan kolosalnya, padahal jika dibandingkan dengan sejarah Gunung Tambora (2.850 m dpl), energi letusan yang dikeluarkan sebanyak 4 kali lebih besar dari Gunung Krakatau. Kehebatan dampak letusannya kepada Manusia dan lingkungan, Dunia barat bahkan menjulukinya sebagai Pompeii dari Timur dan digolongkan sebagai Gunung Berapi yang mempunyai kekuatan ledakan super (Supervulcano) yang artinya proses letusan gunung berapi ini memuntahkan isi perutnya lebih dari 1.000 kubik kilometer atau 240 mil kubik.


Gunung Tambora yang saat itu berbentuk stratovulcano, gunung yang berbentuk runcing pada ujungnya sebagaimana penggambaran awam kita tentang sebuah gunung. Meletus pada tahun 1815 dengan kekuatan peringkat ke tujuh menurut Volcanic Explosivity Index, dan termasuk sebagai ukuran letusan gunung berapi terbesar sepanjang sejarah. Penggambaran kehebatan letusan Tambora 1815 bahwa suara ledakannya terdengar hingga di Pulau Sumatera (lebih dari 2.000 km jauhnya). Abu Vulkanik yang keluar dari gunung diamati juga jatuh di Kalimantan, Jawa, Maluku dan Sulawesi. Korban yang tewas setidaknya terhitung sekitar 71.000 jiwa (mungkin catatan yang paling mematikan dalam sejarah letusan), yang langsung tewas karena letusan terhitung berkisar 11.000 - 12.000 jiwa, dan selebihnya tewas karena dampak lanjutan dari letusan gunung mulai dari wabah penyakit, kelaparan karena kegagalan panen dan dampak perubahan iklim global yang disebabkan oleh letusan gunung Tambora.

Danau Toba

Gunung Api Toba Meletus Tiga Kali

Gunung Api Toba yang terbentuk ratusan juta tahun silam ternyata meletus tak hanya sekali. Beberapa peneliti menemukan bahwa gunung itu telah meletus sebanyak tiga kali dan berubah menjadi danau raksasa, panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, membentang di jantung Pulau Sumatera.

Letusan pertama terjadi 840 juta tahun lalu yang menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Parapat dan Porsea. Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 juta tahun lalu dan membentuk kaldera di utara danau, di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol.

Letusan ketiga merupakan yang terdahsyat. Letusan yang terjadi antara 71.000 sampai 74.000 tahun lalu itu menyempurnakan bentuk kaldera menjadi wujud Danau Toba dan Pulau Samosir sekarang.

Letusan terakhir ini pulalah yang dampaknya paling dirasakan manusia. Jumlah material letusan yang dikeluarkan Gunung Toba mencapai 3.000 kilometer kubik. Jumlah ini adalah 3.000 kali letusan Gunung St Helena pada 1980.

Akankah gunung yang sudah berubah menjadi danau itu meletus kembali dengan kekuatan yang setara seperti prediksi Profesor Ray Cas dari School of Geoscience, Universitas Monash, Australia, beberapa waktu lalu?

Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan, kaldera Danau Toba tidak termasuk gunung aktif lagi, meski sejumlah aktivitas seismik sempat terpantau di sana.

Gunung Pusuk Buhit yang berada dekat danau itu memang mengeluarkan asap solfatara di puncaknya. Menurut Surono, gunung itu diklasifikasikan sebagai Gunung Api Tipe C dan tidak ada hubunagnnya dengan Gunung Api Toba. "Saya lebih percaya (Pusuk Bukit) terjadi karena aktifitas sesar saja, tidak ada hubungannya dengan magmatik Danau Toba," katanya kepada Tempo pada akhir pekan lalu.

Danau Toba alias Gunung Toba itu yang masih aktif, meski status keaktifannya saat ini adalah dormant (tidur panjang). Sisa-sisa aktifitas Gunung Toba terhampar di kawasan bukit Pusukbukit di tepi barat danau ini, dalam bentuk kerucut kecil vulkanis dengan beberapa titik mata air panas (hotsprings) di kakinya. Sama halnya dengan Gunung Toba, bukit Pusukbukit ini mendapatkan magmanya dari dapur magma di kedalaman 50 km dari permukaan tanah. Penanda lainnya dari aktivitas Toba adalah kenaikan gradual (perlahan) Pulau Samosir, yang ditunjukkan dengan keberadaan lapisan-lapisan sedimen danau di pulau ini. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa dalam dapur magma sedang terjadi proses pengisian magma kembali (refiling). Ini membuat tekanan dalam dapur magma meningkat sehingga ia sampai bisa mengangkat pulau sedikit demi sedikit. Namun proses ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Tekanan dapur magma Gunung Toba baru akan mencapai situasi yang sama dengan kondisi pada saat meletus 74.000 tahun silam pada setidaknya 400.000 - 600.000 tahun ke depan. Jadi jangan terlalu dikhawatirkan.

Salah satu letusan gunung terbesar di dunia pada 70 ribu tahun yang lalu, Gunung Api Toba di Sumatera Utara, ternyata bukanlah malapetaka besar pada iklim dunia. Namun, letusan itu memang terbilang yang terkuat yang pernah dirasakan planet bumi selama dua juta tahun terakhir.

Itulah hasil penelitian sebuah tim ilmuwan dari Universitas Cambridge dan Universitas Readning dari Inggris; Institut Smithsonian, Amerika Serikat; Universitas Karnatak, India; serta Universitas Queensland dan Universitas Wollongong dari Australia. Tim itu dipimpin Michael Petraglia dari Cambridge.

Menurut para peneliti, seperti dimuat pada majalah Science edisi Kamis pekan lalu, hipotesis bahwa letusan Toba telah mendinginkan bumi secara drastis dan merupakan pembunuh manusia paling banyak hanya didukung bukti-bukti yang lemah.

Mereka menemukan serangkaian artefak batu di India bagian selatan yang mengindikasikan bahwa populasi manusia tak banyak berubah setelah letusan gunung itu.
Alat-alat batu tersebut ditemukan pada lapisan tanah yang bercampur dengan satu layer debu dari Gunung Api Toba. Secara mendasar, tingkat evolusi alat batu itu sama dengan temuan artefak dari level yang di bawahnya (dari masa yang lebih dahulu).

Sedikitnya perbedaan pada bentuk morfologi artefak pada layer gunung api dan layer di bawahnya mengindikasikan bahwa letusan gunung api itu tak terlalu signifikan seperti yang diduga sebelumnya. Para peneliti tersebut mengatakan memang masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut, terutama mencari tahu bagaimana aspek-aspek dari migrasi manusia pada masa letusan itu.

Letusan Gunung Toba diperkirakan mencapai level 8 dalam indeks letusan gunung api atau terbilang sebagai letusan megakolosal. Bill Rose dan Craig Chesner dari Universitas Teknologi Michigan menghitung bahwa material erupsinya mencapai 2.800 kilometer kubik--sekitar 2.000 kilometer kubik permukaan bumi terangkat dan sekitar 800 kilometer kubik di antaranya hancur menjadi abu.

Sebagai perbandingan, letusan Gunung Tambora di Sumbawa pada 1815 "hanya" mengeluarkan material 100 kilometer kubik. Danau Toba, yang bisa disaksikan kini, adalah kaldera yang terbentuk akibat letusan dahsyat tersebut.



Letusan Gunung Krakatau 1883

Kamis, 06 September 2007


Letusan Gunung Krakatau, 1883

Foto : Lukisan Gunung Krakatau di abad 19

Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, Gunung Krakatau meletus. Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geoghrapic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling meluluh-lantakkan dalam sejarah manusia moderen. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 peduduk bumi saat itu.
Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama Tambora (1815) mencatatkan nilaiVolcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Sedangkan buku The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.
Selain itu, ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Langka, India, Pakistan, Austral;ia dan Selandia Baru.
Akibat letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Gelombang laut naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.
Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak ( Serang ) hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung layar di Pulau Panaitan ( Ujung Kulon ) serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer.
Selain itu suara letusan Gunung Krakatau juga sampai terdengar di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali dari bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.
Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfir. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Kerusuhan Mei 1994

Kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan yang terjadi di Indonesia pada 13 Mei - 15 Mei 1998, khususnya di ibu kota Jakarta namun juga terjadi di beberapa daerah lain. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998.
Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan oleh amuk massa — terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa[1]. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Surakarta. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut[2][3]. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Tak hanya itu, seorang aktivis relawan kemanusiaan yang bergerak di bawah Romo Sandyawan, bernama Ita Martadinata Haryono, yang masih seorang siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh karena aktivitasnya. Ini menjadi suatu indikasi bahwa kasus pemerkosaan dalam Kerusuhan ini digerakkan secara sistematis, tak hanya sporadis.
Amuk massa ini membuat para pemilik toko di kedua kota tersebut ketakutan dan menulisi muka toko mereka dengan tulisan "Milik pribumi" atau "Pro-reformasi". Hal yang memalukan ini mengingatkan seseorang kepada peristiwa Kristallnacht di Jerman pada tanggal 9 November 1938 yang menjadi titik awal penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi dan berpuncak pada pembunuhan massal atas mereka di hampir seluruh benua Eropa oleh pemerintahan Jerman Nazi.
Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama besar yang dianggap provokator kerusuhan Mei 1998. Bahkan pemerintah mengeluarkan pernyataan berkontradiksi dengan fakta yang sebenarnya yang terjadi dengan mengatakan sama sekali tidak ada pemerkosaan massal terhadap wanita keturunan Tionghoa disebabkan tidak ada bukti-bukti konkret tentang pemerkosaan tersebut.
Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Namun demikian umumnya orang setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian terhadap orang Tionghoa.

Saturday, May 1, 2010

Tragedi Tanjung Priok 1984


Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI beragama Katholik, Sersan Satu Hermanu, mendatangi mushala As-Sa'adah untuk menyita pamflet berbau 'SARA'. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur'an. Warga marah dan motor motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang ikhwan yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.